Musik Indonesia bisa menembus pasar Eropa

0
3

Industri musik tanah air terus menggeliat di era digital. Memang sih jika dilihat dari sisi kontribusi pada Pendapatan Domestik Bruto (PDB) 2018, sumbangan industri musik masih di bawah 1%. Menurut Direktur Pengembangan Pasar Luar Negeri Deputi Pemasaran Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Boni Wahyu Pudjianto, musik baru menyumbang 0,48% untuk PDB 2018.

Angka ini terbilang kecil dibanding subsektor kreatif lain seperti kuliner. Kendati begitu, industri musik Indonesia patut berbangga. Pasalnya, untuk pertama kali industri musik akan diperkenalkan di Eropa lewat ajang Marche International du Disque et de l’Edition Musicale (MIDEM) 2018 yang digelar mulai 5-8 Juni 2018 di Cannes, Prancis. Ini merupakan ajang pameran musik internasional berformat business to business (B2B).

“Kegiatan ini sebagai salah satu langkah dalam membangun keberlanjutan ekosistem perekonomian kreatif di Indonesia, khususnya pada subsektor musik. Lewat ajang ini kita bisa berbagi inspirasi, menciptakan peluang kolaborasi dan membangun hubungan profesional bersama antara industri musik Indonesia dengan industri musik dunia,” kata Boni dalam acara press conference MIDEM 2018, baru-baru ini di Jakarta.

Ajang ini sekaligus diharapkan bisa memberikan stimulan bagi industri musik di Indonesia. Selain itu, musik Indonesia dapat semakin dikenal pada level internasional. Sehingga semakin banyak pelaku pada industri musik dari seluruh dunia yang menanamkan investasinya di Indonesia.

Terlebih MIDEM punya misi mendukung pengembangan bisnis dan inovasi yang dilandaskan pada empat nilai dasar, yaitu kerja sama, kreatifitas, pemberian inspirasi dan edukasi serta inovasi di bidang musik. Ajang ini juga diikuti label dan publisher internasional, music distributor, musisi, produser, film-makers, perusahaan teknologi dan start-up, hingga game developers dan animators.

Bukan cuma sekadar menjadi peserta, di ajang ini Bekraf juga melakukan beberapa kegiatan seperti pembangunan Paviliun Indonesia, Indonesia Panel, dan Speedmeeting, serta pemasangan promosi Indonesia.

Nah khusus untuk paviliun Indonesia akan mendisplay dan mempromosikan pelaku kreatif subsektor musik Indonesia yang sebelumnya sudah pernah mengikuti pameran-pameran internasional. Di ajang ini Indonesia akan diwakili sejumlah pelaku di industri musik mulai dari perusahaan perusahaan rekaman, publisher, artist management, sampai dengan music event organizer.

Lantas mengapa pasar Eropa ya? Menurut Ketua Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) Gumilang Ramadhan, saat ini ada dua “kiblat” musik dunia yaitu Eropa dan Amerika. Hanya saja untuk menembus pasar Amerika tergolong sulit. Sebab, pasar Amerika lebih membuka peluang untuk industri musik lokal. Sementara pasar Eropa jauh lebih terbuka.

“Kami memilih Eropa karena lebih terbuka dan  MIDEM merupakan kesempatan untuk industri musik Indonesia menembus pasar Eropa,” katanya.

Hal senada disampaikan Yonatan Nugroho Managing Direktur PT Trinity Optima Production perusahaan rekaman Indonesia yang menaungi sejumlah artis. Lewat ajang ini ia berkeinginan memperkenalkan talent-talent Indonesia ke pasar internasional yang lebih luas. “Dengan adanya digitalisasi langkah kolaborasi dan kerjasama B2B akan lebih mudah dilakukan,” katanya.

Dengan mengikuti ajang ini maka langkah pengelolaan HKI bagi musisi di Indonesia akan mendapat dukungan lebih luas lagi,” ucap Irfan Aulia Irsal dari Asosiasi Penerbit Musik Indonesia (APMIndo).

source : https://www.brilio.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here